Angin perubahan itu bisa terjadi di setiap sudut manapun dimana manusia bermukim. Ia bukan hanya keluar memanggil di pusat kota saja, melainkan kadang berhembus menuju kampung-kampung nun jauh di pinggir kota sana. Dari kampunglah, saat ini mulai terungkap berbagai cerita perihal semangat dan harapan yang sebelumnya jarang terdengar. Karenanya keberadaan entitas kampung tersebut dapat menjadi momentum awal akan sebuah pemahaman baru. Bahwasanya kekuatan sebuah kota yang dulunya kerap muncul dari tengah, kini ia hadir mengepung dari pinggir-pinggir kota yang kadang tak terlihat oleh mata kita. Meski kadang himpunan energi kampung ini mesti berjuang keras dan terus berproses demi membuktikan bahwa mereka bisa bermartabat di kampungnya sendiri.

Salah satu contoh dari yang telah disebutkan di atas adalah Kampung Cicukang. Kampung Cicukang II tepatnya RT 05 RW 07 ini termasuk ke dalam wilayah Kelurahan Husein S, Kecamatan Cicendo yang diapit oleh Jalan Komud Supadio Bandung. Kampung Cicukang merupakan salah satu pemukiman padat di Kota Bandung yang lokasinya terletak di sepanjang pinggir rel Kereta Api. Di sanalah kita dapat menatap sebuah kampung yang hampir setiap 15 menit sekali, dilewati oleh gerbong-gerbong Kereta Api dengan suara gemuruh roda besinya. Karenanya Kampung Cicukang tersebut kerap dijadikan simbol gerbang masuk bagi gerbong-gerbong besi yang mengangkut ratusan manusia ke Kota Bandung. Sebagaimana kampung kota pada umumnya, beberapa permasalahan pun melekat di dalam tubuh Kampung Cicukang ini. Dari mulai kesulitan untuk mendapatkan air bersih, pembuangan sampah, tawuran pemuda, kesulitan ekonomi masyarakatnya, tata ruang yang semerawut, dan sejumlah masalah sosial yang timbul dari berbagai aspek yang ada. Namun ternyata, warga Kampung Cicukang ini memiliki modal yang sangat berharga. Mereka memiliki semangat kekompakan yang luar biasa. Mereka sangat mendambakan sentuhan kolaborasi dari sesamanya. Dan akhirnya aliran setrum itu pun menyengat di Kampung Cicukang. Melalui Program Akupuntur Kota yang dihadirkan oleh Bandung Creative City Forum (BCCF) dengan konsep Kampung Kreatifnya, keintiman yang berbuah kreativitas pun lahir di sana. Letupan-letupan kecil potensi & ide yang dimiliki oleh warga Kampung Cicukang ini menjadi sesuatu yang amat dibutuhkan demi membangun peradaban baru.

Dan denyut nadi lain di Kampung Cicukang ini pun mulai berdetak. Terdapat sekelompok ibu-ibu Kampung Cicukang yang membentuk sebuah grup bernama Musik Dapur Mekar Asih. Uniknya, mereka memainkan alat musik dari perabotan dapur yang sudah tidak terpakai. Ada wajan bolong, rantang-rantang bekas yang dirakit dengan pipa paralon, bekas galon minuman yang disulap jadi alat tabuh, dan lain sebagainya. Cerita humor pun muncul dari salah satu personil grup Musik Dapur Mekar Asih ini yang bernama Ibu Euis. Teman-temannya sering menyapa Ibu Euis dengan sebutan Agnes Monica. Entah mengapa yang pasti ngga banget miripnya. Ibu Euis sempat berujar bahwa sebelum meninggal, ia ingin sekali bertemu dengan idolanya semenjak kecil yaitu Haji Roma Irama. Biar tidak penasaran dan melengkapi hidup katanya. Semoga Bang Haji membaca tulisan ini dan segera pindah rumah. Pada saat ibu-ibu ini tampil di depan panggung, semangat dan keceriaan mereka sangat tampak terlihat. Tak kelihatan raut wajah mereka yang menunjukkan ekspresi canggung saat tampil di depan penonton. Meski kadang suara-suara musik dapur itu hilang ditelan suara roda besi yang menyentuh rel di saat Kereta Api datang melewati kampung tersebut. Lalu energi lain muncul dari kelompok anak mudanya. Selain mereka membuat mural kampung, mereka menciptakan wayang yang terbuat dari seng dan memasangnya di sepanjang pinggir kampung mengikuti jalur Kereta Api. Semacam Kinetic Art konsepnya. Menurut mereka, rencananya suatu saat akan dibuat wayang seng skala gigantik sebagai penanda keberadaan Kampung Cicukang tersebut. Lain halnya dengan kuliner Kampung Cicukang yang tak kalah uniknya. Ada makanan yang dinamai Martabak Israel, Cidog (Aci & Endog), Perkedel Bondon, dan Kerupuk Seblag oleh para warganya. Semuanya ini terlihat jelas kala diadakan Festival Kampung Cicukang sekaligus peresmiannya pada hari minggu tanggal 7 Oktober 2012.

Inilah sekelumit cerita tentang Kampung Cicukang yang (memang) tak sepenuhnya lengkap dan indah. Karena masih banyak sebenarnya realitas permasalahan yang tersisakan dan mau tidak mau mesti dihadapi oleh warganya. Isu sampah dan air misalnya. Meskipun demikian, selalu ada seberkas cahaya mentari yang menyinari Kampung Cicukang ini. Dari sanalah semua kisah perubahan itu semestinya berawal. Sebuah kampung yang mandiri, yang bagi sebagian orang menjadi representasi wilayah kumuh dan tidak berestetika. Namun demikian, kita perlu mengupayakan ke depan agar citra Kampung Cicukang dapat menjadi semacam backstage tourism, yang memiliki potensi wisata dari sisi lain yang menyelimutinya. Meski ia tentunya berbeda dengan etalase wisata resmi yang eksotis plus indah menawan pada umumnya. Tetapi kita harus percaya bahwa keberadaan kampung-kampung seperti inilah yang sebenarnya menopang tubuh sebuah kota. Agar ia selalu berdiri tegak setiap harinya dari mulai matahari terbit di ufuk timur dan terbenam di ufuk barat. Sehingga kelak kita bisa menitipkannya kepada anak dan cucu kita seraya berkata, “Inilah Kampungmu, Jadikanlah Kotamu”.

galih sedayu
Bandung, 13 Oktober 2012

 


Copyright (c) 2012 by galih sedayu
All Right reserved. No part of this writting & pictures may be reproduced in any form or by any means, electronic or mechanical including photocopy, recording or any another information storage and retrieval system, without prior permission in writing from photographer.

View more here.